Indonesia360 merupakan platform untuk memberikan pelatihan dan informasi tentang Drone Aerial, FPV Racing serta manfaat drone untuk industri dan bisnis.

Seperti yang Kita tahu, Indonesia dengan deretan hutan paru-paru dunianya ini memiliki iklim tropis yang cenderung panas dan kering. Potensi terjadinya kebakaran hutan akibat kekeringan pun menjadi cukup tinggi. Bahkan fenomena ini bisa dipastikan akan terjadi hampir disetiap tahunnya. Namun, masyarakat masih cukup awam dan cenderung acuh dengan hal ini. Padahal, jika tidak diperhatikan dengan baik, hutan-hutan yang ada di Indonesia bisa gundul, habis tak bersisa. Bukan hanya akan menyebabkan lahan menjadi gersang dan panas saja, tapi juga akan menghancurkan ekosistem yang sebelumnya terbentuk di dalam hutan tersebut. Lalu apa solusinya?

Berdasarkan artikel berjudul 'menyingsing ekologi drone' yang dimuat dalam jurnal sains Tropical Conservation Science pada tahun 2012, dijelaskan bahwasanya kemunculan teknologi dirgantara berupa pesawat tanpa awak merupakan alternatif pemetaan penginderaan jauh yang memiliki kualitas foto bagus dengan biaya yang kompetitif. Sejak saat itu, penggunaan drone terus mengalami peningkatan, baik itu dari pihak para peneliti yang tertarik untuk mencari tahu bagaimana cara kerja perangkat ini di bidang riset, juga penggunaannya dari pihak para pengembang. Untuk bidang pemanfaatannya sendiri, ada banyak hal yang bisa disorot dengan drone. Misalnya saja pemanfaatan drone untuk kehutanan, bentang alam, perkebunan, lanscape unik dari sisi permukaan, dan masih banyak lainnya.

Lalu bagaimana cara Kita bisa memaksimalkan pemanfaatan drone untuk kehutanan? Jika dibandingkan dengan satelit, mana yang lebih baik?

Cakupan Wilayah yang Bisa Dijangkau Drone

Cakupan jangkauan yang dimiliki oleh drone berbeda-beda bergantung dengan jenis dan merk yang digunakan. Kebanyakan dari merk yang beredar, 2000 hingga 4000 hektare menjadi jangkauan rata-rata dari drone. Sedangkan untuk lama pengoperasiannya masih bergantung pada kondisi alam. Beberapa drone membutuhkan waktu 3 atau 4 hari untuk bisa menyelesaikan jarak tadi, namun beberapa lainnya membutuhkan waktu hingga 1 minggu untuk selesai. Pasalnya, drone tidak dapat mengudara bila kondisinya sedang hujan atau berangin.

Baca Juga : Perbedaan Drone Recreational VS Drone Commercial

Drone Vs Satelit

Salah satu keuntungan yang bisa didapatkan dengan menggunakan drone adalah dapat memantau bentang alam dengan karakteristik yang sangat kompleks. Sebut saja bentang alam hutan, bentang alam perladangan berpindah, atau bisa juga tempat dengan fragmentasi habitat dan plot-plot pertanian kecil yang cukup intens. Kebanyakan sistem pertanian memperlihatkan pepohonan sebagai tanaman pagar.

Namun untuk masyarakat di Kalimantan, seperti suku dayak misalnya, bentang alam yang dimilikinya memiliki perpaduan yang rumit antara kebun karet, hutan, kebun campuran, juga rerumputan. Dengan kondisi bentang seperti itu, drone memiliki kemampuan untuk memetakan pola-pola kecil dari bentang alam dengan baik. Sedangkan beberapa satelit tidak bisa membuat perbedaan diantara bentang tersebut karena hanya memiliki jangkauan resolusi 10 hingga 30 meter saja. Apabila Anda tetap ingin menggunakan satelit untuk memetakan bentang alam tersebut, Anda dapat menggunakan satelit yang memiloko resoluso lebih tinggi. Hanya saja harganya akan cukup mahal, dan terkadang data yang sudah terekam sangat sulit untuk didapatkan.

Kendala lain yang akan dialami ketika menggunakan satelit adalah tutupan awan. Di wilayah tropis yang lembab, seseorang terkadang akan memperoleh satu citra yang bagus dari suatu daerah per tahunnya, namun kadang-kadang hal ini juga tidak terjadi. Oleh sebab itu pemanfaatan drone untuk kehutanan dapat dijadikan alternatif karena bisa menghalau adanya tutupan awan yang menghalangi kamera.

Ketika hendak memeriksa peta vegetasi namun tidak begitu yakin dengan jenis hutan atau vegetasi yang hendak diperiksa, seseorang biasanya akan menghabiskan waktu setidaknya sehari berjalan kaki untuk bisa memeriksanya. Akan tetapi, bila menggunakan drine, proses tersebut bisa diselesaikan hanya dengan 20 menit saja. Tak ayal jika keberadaan pesawat tak berawak dianggap sangat berguna karena bisa memperoleh gambaran bagus nan dramatis tentang kehidupan yang ada di masyarakat desa.

Walau begitu, drone tidak selalu harus menggantikan penggunaan satelit. Kini, tersebar banyak citra satelit gratis yang cukup bagus. Sebut saja Landsat dan Sentinel. Sejauh ini, kelemahan dari drone adalah keterbatasan cakupan area yang sangat luas.

Beberapa orang mungkin akan menanyakan hal serupa, tentang 'apakah drone dapat digunakan untuk memetakan perkebunan kelapa sawit?'. Sebenarnya, penggunaan satelit saja sudah bisa dianggap cukup karena memang perkebunan biasanya memiliki area yang sangat besar. Akan tetapi, drone ini bisa digunakan untuk mengatur ulang data yang sudah diambil satelit. Misalnya saja dengan memetakan pohon mana yang terkena penyakit, atau daun mana yang sudah menguning, ataupun kesalahan-kesalahan lain pada pohon dan perkebunan yang tidak bisa dilihat melalui satelit.

Baca Juga : Kenalkan Drone Penyelamat, DJI Drone Rescue Map

Deteksi Dini Kebakaran Di Hutan

Beberapa waktu lalu, Indonesia digegerkan dengan kasus kebakaran yang menyerang sebagian wilayah dari kehutanan Indonesia. Sebut saja wilayah Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur, hingga Sumatera Selatan. Fenomena ini menarik banyak perhatian dunia karena memang dampaknya yang cukup serius. Beberapa aktivis lingkungan kemudian mulai meminimalisir adanya dampak yang lebih parah dengan menggunakan pesawat tanpa awak untuk memantau kebakaran di dalam hutan. Karenanya, salah satu pemanfaatan drone untuk kehutanan adalah untuk mendeteksi potensi kebakaran di hutan.

Berdasarkan informasi yang dimuat oleh banyak surat kabar, ada banyak kasus hutan terbakar seluas ribuan hektar dengan beberapa titik api yang masih belum padam hingga saat ini. Melihat kondisi seperti ini, Pemerintah melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia mengeluarkan peraturan tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan dalam peraturan nomor P.32/MenLHK/Setjen/Kum.1/3/2016.

Adapun makna dari peraturan tersebut ialah upaya untuk meningkatkan kualitas pengendalian dari kebakaran lahan dan hutan yang bisa didukung oleh pemanfaatan drone untuk kehutanan atau sarana dan prasarana lain seperti yang dimaksud pada ayat 1F. Seperti misalnya adalah CCTV atau sensor panas sejenisnya, menara pengawas, global positioning system, perangkat pendukung yntuj mengolah data informasi hotspot, ultra light truje atau pesawat terbang, pesawat tidak berawak, serta peralatan dan perlengkapan yang berguna untuk menyebarluaskan informasi hasil deteksi dini yang ada.

Melalui peraturan tersebut, jelas bahwa pemanfaatan drone untuk kehutanan dimasukkan sebagai salah satu wahana sarana deteksi dini yang mumpuni. Karena pemadaman kebakaran yang efektif secara mutlak memerlukan adanya kemampuan untuk melacak posisi kebakaran sedini mungkin. Diketahui, Asia Pulp and Paper menjadi salah satu perusahaan hutan tanaman industri yang mengaplikasikan drone untuk keperluan deteksi dini kebakaran hutan serta memonitoring area hutan miliknya. Dikutip dari salah satu artikel yang sudah dirilis terkait dengan pemanfaatan drone di perusahaanya, Asia Pulp and Paper mengungkapkan bahwa setelah menggunakan drone, waktu respon satuan dari pemadam kebakaran meningkat secara drastis dalam penanganan potensi kebakaran di wilayah tersebut.

Bukan hanya memiliki fungsi untuk mengawasi, pada saat kebakaran hutan terdeteksi, satuan drone mampu mengarahkan berbagai peralatan pemadam kebakaran ke tempat yang dirasa paling strategis dan dekat pada sumber api. Pun juga memberikan informasi-informasi penting terkait arah angin, sumber-sumber air terdekat, serta kecepatan angin pada kawasan yang dimaksud.

Kelebihan lain dari pemanfaatan drone untuk kehutanan guna mendeteksi dini adanya potensi kebakaran, dibandingkan dengan alat lainnya, adalah pengoperasian drone yang cukup sederhana dan mudah untuk dilakukan. Selain itu, biaya yang perlu dikeluarkan pun tidak terlalu banyak. Oleh karena itu, proses monitoring bisa dilakukan dengan lebih rutin. Terlebih karena drone yang difungsikan untuk deteksi kebakaran ini terbang dengan ketinggian yang cukup rendah. Sehingga hasil yang akan diperoleh pun akan lebih akurat karena tidak terganggu oleh tutupan awan ataupun asap.

Baca Juga : Mengenal Jenis Pekerjaan dari Drone

Penggunaan Drone Paska Kebakaran Hutan

Selain dapat digunakan sebagai alat deteksi dini akan potensi kebakaran, pemanfaatan drone untuk kehutanan juga mencakup kondisi paska kebakaran hutan. Sesaat setelah kebakaran berlangsung, drone akan diterbangkan ke area yang terbakar. Gunanya adalah melihat luas lahan yang terbakar dan area yang berhasil terselamatkan secara efisien. Drone juga akan menunjukkan akses-akses mana saja yang masih bisa dilalui manusia, juga menemukan berbagai titik panas yang mungkin akan tersulut api lagi.

Malah, saat masih terjadi kebakaran sekalipun, pesawat tanpa awak mampu memantau arah api akan menyebar. Jelas hal ini akan memudahkan pemadam dalam mengevakuasi hal atau siapa saja yang mungkin akan terkena dampak berbahaya dari fenomena kebakaran itu. Pun dengan menjadikannya sebagai pentunjuk yang bisa digunakan untuk mencari sumber air terdekat agar proses pemadaman bisa segera terselesaikan. Pemanfaatan drone untuk kehutanan mampu mencakup luasan hingga ratusan hektar dengan durasi yang cukip singkat dalam satu kali terbang.

Dalam kasus-kasus kebakaran hutan, api akan menyebar dengan cepat ke segala penjuru. Untuk bisa melihat dampaknya, manusia cenderung mengalami kesulitan untuk bisa menyusuri kondisi lahan yang baru saja terlalap api. Karenanya, cara paling efektif yang dianggap mampu diterapkan pada kondisi seperti ini adalah dengan melihatnya dari sisi atas permukaan seperti dengan menggunakan drone. Apalagi drone cukup mudah untuk dibawa dan dioperasikan pada lokasi kebakaran meskipun hanya dengan satu orang saja. Hasil pengambilan data informasinya pun cukup jelas, denhan resolusi yang tinggi, serta akurasi yang akurat sehingga akan memudahkan para pemegang kekuasaan untuk mengambil keputusan. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, drone sangatlah bersahabat dalam urusan biaya jika dibandingkan dengan pesawat berawak.

Agar pemanfaatan drone untuk kehutanan bisa lebih maksimal, drone dapat dipasangi dengan berbagai sensor tambahan yang akan menangkap lebih banyak data yang sulit untuk dilihat mata secara langsung. Misalnya saja sensor thermal yang difungsikan untuk melihat titik-titik api yang masih menyala namun sulit terlihat pada siang hari karena tertutupi oleh asap. Lalu ada Terra Drone Indonesia yang pernah digunakan pada tahun 2015 untuk memantau dan melakukan pemetaan pada saat terjadi kebakaran di Gunung Papandayan, Garut. Rekaman hasil data yang diambil dengan menggunakan drone tadi, akan membantu banyak orang, terutama para sukarelawan, untuk membuat parimeter aman dan garis kontrol agar penyebaran api bisa dihentikan.

Itulah beberapa pemanfaatan drone untuk kehutanan yang perlu Anda pahami. Sebenarnya, penggunaannya ini sangatlah luas disamping mampu memprediksi potensi kebakaran dan mamantau kondisi paska kebakaran. Sebagai contoh saja pemanfaatannya untuk sinematografi, fotografi, dan lainnya.